Daya Beli Turun Saat Lebaran 2025, Mal Ramai Tapi Minim yang Belanja

23 hours ago 6

loading...

Berdasarkan survei dari Populix, sekitar 55-56% penerima THR saat ini lebih memilih untuk menabung, sehingga jumlah masyarakat yang berbelanja maupun yang melakukan mudik juga ikut berkurang. Foto/Dok

JAKARTA - Daya beli masyarakat di momen Lebaran 2025 ini mengalami pelemahan. Chairman & Founder Affiliation Global Retail Association (AGRA), Roy Nicholas Mandey mengungkapkan, meskipun mal tampak ramai, namun nyatanya hanya sedikit saja pengunjung yang berbelanja.

“Kita lihat dari kunjungan masyarakat yang berbelanja memang terjadi pelemahan. Mal tetap ramai, tetapi tidak menggambarkan masyarakat berbelanja. Mereka lebih banyak datang untuk bersilaturahmi, berbuka puasa, kemudian saat lebaran ya berkumpul bersama keluarga,” ujar Roy saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Rabu (2/4/2025).

Roy menjelaskan, bahwa saat ini pengunjung lebih sering sekadar melihat-lihat tanpa melakukan pembelian yang signifikan. Lebih lanjut, Roy juga mengungkap jika ukuran rata-rata jumlah barang atau layanan yang dibeli dalam satu transaksi (basket size) mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan survei dari Populix, kata Roy, sekitar 55-56% penerima Tunjangan Hari Raya (THR) saat ini lebih memilih untuk menabung, sehingga jumlah masyarakat yang berbelanja maupun yang melakukan mudik juga ikut berkurang. Hal ini bisa dilihat dari data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) ketika jumlah pemudik turun dari 192 juta menjadi 146 juta.

Selain itu menurut Roy, peredaran uang di masyarakat juga mengalami penurunan signifikan, turun sekitar 16% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, peredaran uang mencapai Rp137 triliun, sementara di 2025 hanya sekitar Rp114 triliun.

“Indeks penjualan ritel (IPR) kita juga turun dari 122 menjadi 112. Jadi semua indikator menandakan memang masyarakat menahan, menahan belanja. Jadi ada dua model. Ada yang menahan belanja meski mereka punya uang, ada juga yang menahan belanja karena mereka ter-PHK," sebut Roy.

Roy juga menyoroti dampak dari penurunan daya beli terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika tahun lalu pertumbuhan ekonomi kuartal kedua mencapai 5,17, tahun ini diperkirakan hanya berada di kisaran 4,8-4,9. Pertumbuhan ritel pun tidak lagi mencapai double digit seperti tahun sebelumnya yang berada di angka 18-20%, melainkan hanya sekitar 8-9%.

“Pemerintah seharusnya mencermati indikator-indikator ini untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam mendorong konsumsi masyarakat,” pungkas Roy.

(akr)

Read Entire Article
Aceh Book| Timur Page | | |