Mengapa Harga BBM di AS Tetap Mahal hingga Tembus Rp100 Ribu meski Produksi Melimpah? Ini Sebabnya

8 hours ago 11

loading...

AS kini menjadi produsen minyak terbesar di bumi, dengan menghasilkan lebih dari 13 juta barel per hari. Namun harga bensin (gasoline) di Amerika Serikat justru meroket. Foto/Dok

JAKARTA - Amerika Serikat (AS) sering digaungkan tidak membutuhkan minyak mentah dari Timur Tengah, seperti yang diucapkan Presiden Donald Trump dalam berbagai pidatonya. Termasuk ketika pecahnya perang AS-Israel melawan Iran belum lama ini, tapi kenapa harga BBM di Amerika tetap mahal?

Secara data, Trump benar. Amerika Serikat kini menjadi produsen minyak terbesar di bumi, dengan menghasilkan lebih dari 13 juta barel per hari. Namun fakta di lapangan berbicara lain, harga bensin (gasoline) di Amerika Serikat justru meroket hingga rata-rata USD4,16 per galon (setara Rp70.623) pada awal April 2026, melonjak drastis dari bawah USD3 di awal tahun.

Baca Juga: Efek Perang Iran, Inflasi AS Diramal Melonjak Tajam Imbas Kenaikan Harga BBM

Jika AS tidak bergantung pada minyak Iran, mengapa dompet warga Amerika tetap terkuras? Berikut adalah penjelasannya.

Hukum Satu Harga

Meskipun AS hanya mengimpor 8% minyak dari Timur Tengah, minyak mentah adalah komoditas global. Mark Zandi, kepala ekonom di Moody’s Analytics, menjelaskan bahwa minyak mengalir ke penawar harga tertinggi.

"Jika sebuah tanker bisa mendapatkan harga lebih tinggi di Malaysia daripada di Rotterdam atau Rio de Janeiro, maka kapal itu akan pergi ke Malaysia," ujar Zandi.

Ketika perang melumpuhkan pasokan di Selat Hormuz, harga minyak dunia (seperti indeks WTI) melompat dari USD67 ke USD105 per barel. Produsen minyak di Texas tidak akan menjual murah ke warga lokal jika mereka bisa menjualnya dengan harga internasional yang jauh lebih tinggi.

Read Entire Article
Aceh Book| Timur Page | | |