loading...
Menurut perkiraan IMF, GDP global akan tumbuh sebesar 3,0% pada tahun 2026. Sementara negara pengimpor dan pengekspor energi, serta sektor teknologi, menghadapi kondisi pasar yang beragam. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA - Pasar keuangan tahun 2026 dipengaruhi oleh risiko geopolitik, fluktuasi harga energi, ekspektasi suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. Menurut perkiraan IMF, GDP global akan tumbuh sebesar 3,0% pada tahun 2026. Sementara negara pengimpor dan pengekspor energi, serta sektor teknologi, menghadapi kondisi pasar yang beragam.
Dinamika ini membuat para trader semakin fokus pada beberapa kelas aset utama: mata uang , komoditas, dan indeks. Di Asia-Pasifik, mata uang regional, kebijakan moneter, teknologi, serta pasar ekuitas menjadi pendorong utama aktivitas trading. Baca juga: Singgung Ring of Fire, Prabowo Ajak Negara Anggota BRICS Ubah Kelemahan Jadi Kekuatan
Perekonomian Jepang memberikan contoh yang sangat jelas. Menurut Bank of Japan (BoJ), tingkat inflasi dasar secara bertahap akan naik menuju level yang sejalan dengan targetnya sebesar 2%. BoJ akan terus menyesuaikan kebijakan moneter akomodatifnya sesuai dengan perubahan dalam aktivitas ekonomi, harga, dan kondisi keuangan. Bank juga menyoroti pergerakan nilai tukar mata uang asing, harga minyak mentah, dan permintaan terkait teknologi AI sebagai faktor kunci.
Namun, perekonomian China terlihat berbeda. Berdasarkan perkiraan resmi, GDP Tiongkok tumbuh 4,3% tahun ke tahun pada Q2 2026, dibandingkan dengan 5,0% pada Q1. Pertumbuhan sejak awal tahun hingga saat ini diperkirakan sebesar 4,7%. Perubahan estimasi pertumbuhan ini memengaruhi nilai tukar yuan, sentimen negara mitranya, serta permintaan komoditas.
Indeks Mencerminkan Tren Pertumbuhan dan Teknologi
Indeks saham regional menawarkan perspektif lain bagi para trader mengenai tren ini. Indeks di Jepang, China, Hong Kong, dan pasar APAC lainnya mencerminkan ekspektasi pertumbuhan, ekspor, konsumsi, manufaktur, dan teknologi.
Yang disebutkan terakhir menjadi sangat relevan. Menurut IMF, permintaan yang didorong oleh AI mendukung perekonomian yang terintegrasi dalam rantai produksi teknologi. Selain itu, Bank of Japan menyoroti peningkatan permintaan terkait AI sebagai kontributor positif bagi aktivitas ekonomi domestik.
Emas dan minyak merupakan bagian penting dari dinamika kawasan APAC. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan biaya bagi negara pengimpor, sementara Asia masih memegang peranan besar dalam pasar emas.


















































