loading...
Solidnya fundamental bisnis serta peluang optimalisasi aset dan pengembangan proyek strategis dinilai menjadi faktor yang menopang prospek kinerja PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) di masa depan. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA - Solidnya fundamental bisnis serta peluang optimalisasi aset dan pengembangan proyek strategis dinilai menjadi faktor yang menopang prospek kinerja PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) di masa depan. Ada sejumlah aspek yang membuat prospek kinerja JSMR menjadi menarik di mata investor.
Kinerja operasional, perkembangan traffic, kontribusi ruas baru, struktur biaya dan pendanaan, serta perkembangan proyek strategis akan menjadi sejumlah indikator penting bagi investor dalam mengevaluasi kinerja JSMR. ”Pada saat yang sama, agenda transformasi BUMN dan optimalisasi portofolio oleh Danantara dapat menjadi faktor strategis yang memperkaya investment story JSMR dalam jangka menengah,” kata Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk. Reza Priyambada, Jumat (18/9/2026). Baca juga: Pembangunan Tol Yogya-Bawen Seksi Ambarawa-Bawen Capai 98,68%, Siap Beroperasi Akhir 2026
Dalam kacamata Reza, prospek JSMR tidak hanya ditentukan oleh pencapaian laba bersih, tetapi juga oleh kemampuan Perseroan menjaga core business-nya melalui pertumbuhan bisnis inti jalan tol . “Ada sejumlah aspek. Dengan kombinasi antara fundamental bisnis jalan tol, pengembangan proyek strategis, dan peluang optimalisasi portofolio dalam ekosistem BUMN, JSMR berpotensi mempertahankan daya tariknya di tengah dinamika sektor infrastruktur dan pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Sebagai catatan, kinerja Jasa Marga pada Semester I/2026 menunjukkan fundamental operasional yang solid, dengan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp10,31 triliun atau naik 7,6% secara tahunan (year on year/yoy), ditopang pendapatan tol sebesar Rp9,5 triliun (naik 6,8% yoy) dan pendapatan usaha lain sebesar Rp798,2 miliar (melonjak 17,6% yoy). EBITDA tercatat Rp6,99 triliun atau tumbuh 8,1% (yoy) dengan margin EBITDA tumbuh menjadi 67,8%. Pada saat yang sama, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,91 triliun, tumbuh 2,0% (yoy).
Kemudian, Gearing Ratio tercatat pada level 1,2 kali dengan Interest Coverage Ratio (ICR) tumbuh menjadi 3,9 kali, yang menunjukkan kapasitas Perseroan untuk menjaga kewajiban finansial sekaligus mempertahankan ruang untuk investasi dan pengembangan bisnis. Dengan karakteristik bisnis jalan tol yang membutuhkan investasi jangka panjang, kemampuan Perseroan menghasilkan EBITDA dan arus kas juga menjadi faktor penting dalam menilai kualitas pertumbuhan perusahaan.


















































