Program MBG Dinilai Memberikan Dampak Nyata, Ini Data Pendukungnya

4 hours ago 3

loading...

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengangkat ekonomi warga yang bekerja di dapur MBG. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini tengah dibenahi pemerintah menjadi salah satu kebijakan yang paling ramai dibicarakan oleh semua kalangan. Di beberapa kesempatan, MBG dituding sebagai program sekadar pencitraan, dianggap tidak bermanfaat, hingga tuduhan miring lainnya.

Kendati demikian, sebuah realita baru mulai muncul dari lapangan. Lebih dari sekadar program biasa, masyarakat kini mulai melihat bagaimana program MBG ini bekerja di tingkat akar rumput. Pandangan senada juga disampaikan oleh Tokoh Pemuda dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pelaku Usaha Desa Seluruh Indonesia, Ahmad Alimudin.

"Sekarang mulai muncul laporan riset lapangan yang melihat dampak awal MBG secara langsung dari orang tua siswa sebagai penerima manfaat. Laporan (RISED) yang melakukan studi di beberapa daerah seperti Cilacap, Semarang, Surakarta, dengan melibatkan sekitar 1800 orang tua siswa penerima MBG. Dari hasil tersebut ada temuan yang menarik. Sebagian keluarga merasa pengeluaran harian mereka menjadi lebih ringan. Orang tua jadi lebih jarang menyiapkan bekal dan uang jajan anak juga mulai disesuaikan. Dari data ini kelihatan kalau MBG memang ada yang butuh. Khususnya keluarga yang kurang mampu," ujar dia mengutip hasil temuan RISED baru-baru ini.

Baca Juga: Tri Yulia Rizki Ananda Sabet Women's Inspiration Award 2026, Bertekad Hapus Stunting di Sumsel Lewat MBG

Alimudin melihat dukungan mayoritas dari akar rumput, khususnya di daerah kota-kota kecil, sebagai penanda bahwa program MBG berdampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, fokus MBG saat ini juga akan menyasar keluarga kurang mampu sebagai prioritas penerima, seperti arahan Presiden yang disampaikan Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, baru-baru ini.

"Programnya (MBG) terpakai dan ada dampaknya. Dan seperti yang kita tahu, sekarang MBG mulai fokus pada keluarga yang kurang mampu sebagai prioritas penerima karena pada akhirnya yang paling penting bukan perang narasi politiknya. Tapi apakah anak-anak Indonesia benar-benar mendapatkan akses makan bergizi yang lebih baik atau enggak," tambahnya.

Read Entire Article
Aceh Book| Timur Page | | |